PGSD UMMAGELANG BELAJAR KURIKULUM & PRAKTIK PEMBELAJARAN CAMBRIDGE DI GREEN SCHOOL BALI

Diposting pada: 2016-05-17, oleh : Administrator, Kategori: Kegiatan Fakultas

Pulau Bali merupakan salah satu pulau menawan diantara ribuan pulau di Indonesia. Pulau Pulau Bali terkenal dengan ragam wisata dan budayanya, yang berhasil mencuri perhatian dunia.  sebagian masyarakat dunia berbondong-bondong melakukan perjalanan ke Pulau Pulau Bali untuk menikmati keindahan wisata dan budaya lokal Pulau Bali yang masih terjaga keasliannya dengan baik.

Mahasiswa semester 4 Program studi PGSD Universitas Muhammadiyah Magelang menjadi bagian dari orang-orang yang beruntung karena bisa mengunjungi pulau Pulau Bali melalui KKL (Kuliah Kerja Lapangan). Kunjungan yang dilakukan bukan semata untuk menikmati tempat wisata yang banyak di Pulau Bali namun tujuan utamanya adalah untuk melakukan Studi Banding terhadap satu-satunya sekolah alam di Pulau Bali yaitu Green School.

Kunjungan ini tergabung dalam serangkain acara yang dilakukan oleh Mahasiswa PGSD UMMagelang yaitu “KKL PGSD Semester 4 UMMgl Goes to Pulau Bali”. KKL ini dilakukan pada tanggal 30 April – 4 Mei 2016. Sebelum keberangkatan ke Pulau Bali seluruh peserta KKL ini diberikan pembekalan langsung oleh Dekan Fakutas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Bapak Drs. Subiyanto, M.Pd., serta Kaprodi PGSD, Bapak Rasidi, M. Pd. Pembekalan ini dilakukan guna memberikan arahan kepada setiap peserta untuk dapat mempersiapkan diri sebelum keberangkatan, himbauan untuk senantiasa menjaga almamater UMMgl, dan lain sebagainya. Dalam perjalanan ke Pulau Bali mahasiswa didampingi oleh dosen pendamping KKL, yaitu: Bapak Noviudin Pritama, M. Pd., Bapak Ari Suryawan, M. Pd., Ibu Duta Sukmarani, M. Si., dan Ibu Tria Mardiana, M.Pd

Tanggal 30 April, seluruh Mahasiswa PGSD UMMgl semester 4 berangkat menuju Pulau Bali sekitar pukul 07.00 WIB. Perjalanan ke Pulau Bali kurang lebih memakan waktu satu hari satu malam, setelah melakukan penyeberangan menggunakan Kapal, rombongan peserta KKL tiba di Pulau Bali pada 1 Mei 2016 sekitar pukul 08.00 WITA, persiapan dilakukan di Tanah Lot Pulau Bali sebelum melakukan kunjungan menuju Green School, karena kunjungan di Green School dijadwalkan pukul 10.00 WITA.

Dalam acara kunjungan ke Green School, Mahasiswa dan Dosen Pendamping PGSD UMMgl disambut dengan sangat baik oleh pihak staf dari Green School. Selanjutnya Mahasiswa dan Dosen Pendamping diajak untuk melihat serta mengamati seluruh area di Green School yang di pandu oleh salah seorang staf yakni, Mr. Gery Saputra. Sembari berkeliling mengamati setiap bagian yang ada di Green School, Mr. Gery Saputra memberikan penjelasan kepada Mahasiswa PGSD UMMgl tentang Green School.

Sebelum tour dilakukan, Mr. Gery Saputra memberikan penjelasan kepada seluruh peserta tour tentang Green School itu sendiri. Pendiri Green School adalah John Hardy dan istrinya Chyntia. John adalah orang Kanada yang sudah 30 tahun di Indonesia, pada awalnya beliau ingin mencarikan alternatif pendidikan kepada putra putrinya, dan sempat melakukan home schooling, namun beliau berpikir bahwa home schooling kurang baik bagi anak-anaknya dalam hal social relations. Tercetuslah ide untuk mendirikan sekolah yang berbasis alam, yang sampai sekarang di kenal Green School, yang tepatnya berada di Desa Sibang Kaja, Badung, Pulau Bali. Tujuan dari pendirian Green School sendiri adalah untuk membentuk sekolah yang berbasis alam, pembelajaran yang menyulur, seluruh pembelajarannya berpusat pada siswa, dan mampu mendorong siswa untuk dapat kreatif, inovatif dan menjadi green leaders.

Ruang kelas di Green School di desain tanpa adanya tembok, yang tujuannya adalah agar tidak memutuskan hubungan antara siswa dengan lingkungan. Siswa difokuskan untuk bisa mencari apa yang bisa dipelajari dari lingkungan dan memberikan feedback berupa kontribusi positif bagi lingkungan. Jalanan yang ada di Green School juga masih alami, dengan menggunakan batu fulkanik.

Proses tour di Green School yang di dampingi oleh Mr. Gery Saputra dimulai dari Pusat Daur Ulang. Pusat Daur Ulang ini digunakan untuk memilah dan memisahkan sampah disesuaikan dengan jenisnya, baik yang organik, non organik, recycleble ataupun yang non recycleble. Salah satu program di Pusat Daur ulang Green School adalah Trash School , yaitu kegiatan siswa untuk berjalan mengelilingi area Green School dan daerah Ubud guna mengumpulkan sampah disepanjang perjalanan pada tiap senin pagi atau selasa pagi

Disamping Pusat Daur Ulang terdapat Toko Pakaian Bekas yang mendukung program yang dinamai “Kul Kul Conection” (Kul Kul: nama kentongan tradisional di Pulau Bali). Program ini memberikan kesempatan kepada komunitas atau siswa lokal untuk dapat belajar Bahasa Inggris secara gratis di Green School dengan hanya membawa 5 kg sampah yang sebagai bentuk biaya.

Selanjutnya ada Pusat Sumber Air (Water Center) yang digunakan untuk menyimpan air dari sungai, air tersebut digunakan untuk segala kebutuhan yang ada di Green School. Pengecekan terhadap air yang ada di Water Center dilakukan setiap hari untuk memastikan bahwa air aman untuk di konsumsi.

Green School memiliki Ruang Kelas Music, diruang kelas ini terdapat angklung dan gamelan. Siswa yang belajar di Green School setiap harinya harus belajar bagaimana cara memainkan gamelan dan angklung. Selain itu ada juga Ruang Kelas Seni, di kelas ini siswa akan belajar membuat art project, yang semua bahannya diambil dari Pusat Daur Ulang.

Dapur yang ada di Green School didesain menyerupai desain dapur warga lokal di Pulau Bali. Di dalamnya terdapat area lesehan yang digunakan untuk menyiapkan makanan sesuai dengan tradisi Pulau Bali. Floem Oil Free (minyak bukan kelapa) digunakan dapur Green School untuk memasak. Dalam proses memasak di dapur, Green School tidak menggunakan minyak kelapa sawit, dengan alasan tidak ingin berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan di Sumatra dan Kalimantan.

Bekerjasama dengan Begawan Foundation, Green School mendirikan tempat konservasi untuk burung Jalak Bali, sembari mengajarkan kepada siswanya untuk bisa menjaga alam. Pada awalnya Begawan Foundation membawa sepasang burung Jalak Bali dari Inggris kemudian dikembang biakan dan di lingdungi umtuk menjaga kelestariannya. Karena pada sekitar tahun 1999 di indonesia tersisa 6 Jalak Pulau Bali di alam liar.

Green School memiliki area yang unik, yaitu arena gulat lumpur. Green School merupakan satu-satunya sekolah di Pulau Bali yang memiliki arena gulat lumpur. Gulat lumpur ini masuk ke dalam kurikulum dan menjadi pelajaran resmi di Green School. Green School juga memiliki kolam renang alami yang terletak disebelah sungai yang terdapat di Green School, kolam renang ini biasa digunakan siswa untuk membersihkan badannya setelah melakukan gulat lumpur.

Setiap kelas yang ada di Green School memiliki kebun dimana kebun tersebut menjadi tanggung jawab bagi masing-masing kelas untuk merawatnya. Selain kebun pada setiap kelas, Green School juga memiliki area kebun sendiri, dalam proses perawatan area kebun Green School tidak menggunakan bahan kimia. Cara menghalau hama tanamanpun dilakukan dengan cara alami, yaitu dengan menggunakan alang-alang dan teknik lainnya. Hampir 80 persen supply makan di Green School diambil dari hasil panen senidiri di area kebun tersebut.

Pupuk yang digunakan di kebun diambil dari Compost Station. Compost Station merupakan salah satu tempat yang diunakan untuk mengelola kompos/pupuk yang ramah lingkungan dan berasal dari sisa-sisa makanan, dengan bantuan cacing dan kotoran sapi.

Bangunan lain di Green School adalah sebuah Jembatan Minang yang difungsikan untuk menghubungkan Green School dengan Bamboo Village dan Student Village. Bamboo Village merupakan asrama yang dihuni oleh para Volunteer dan intern person yang ada di Green School, sedangkan Student Village sendiri merupakan tempat yang digunakan untuk mengakomodasi siswa Green School yang tidak tinggal bersama orangtuanya.

Ada sebuah bangunan yang sangat unik, bangunan ini disebut Jantung Sekolah. Dan bangunan ini merupakan bangunan utama di Green School. Menurut Google, bangunan utama di Green School tersebut merupakan bangunan dengan struktur bambu terbesar di dunia. Dan di setiap bagian bambu terdapat ukiran nama-nama orang dari berbagai negara dan dalam berbagai bahasa, mereka adalah para donatur, setiap orang atau yayasan yang memberikan bantuan atau donasi kepada Green School maka akan namanya akan diabadikan dengan menuliskannya tiang-tiang bambu bangunan utama tersebut. 

Mengenai kurikulum yang digunakan di Green School, Mr. Gery Saputra menjelaskan bahwa kurikulum yang digunakan berkiblat pada Cambridge, pembelajaran yang dilakukan bersifat menyeluruh. Pembelajaran yang dilakukan menggunakan pendekatan yang di sebut The Three Frame Day atau tiga kerangka belajar dalam satu hari. Pada kerangka pertama, yang dipelajari oleh siswa mengenai empat bagian yang ada di dalam tubuh, yaitu intra personal, emosional spriritual, fisik, dan intelektual. Kerangka awal ini dilakukan dipagi hari. Kerangka yang kedua dilakukan di siang hari yaitu pembelajaran fokus terhadap praktikum (eksperimen frame), pada tahap ini siswa diberikan first hand experience dalam proses praktikum. Kerangka yang terakhir adalah kerangka keahlian atau profession skill frame.

Green School tidak memberikan PR kepada siswanya bahkan ujianpun ditiadakan. Guru yang mengampu siswa bertugas mengevalusi masing-masing siswa dan mencari tahu area mana   dari siswa yang terlihat menonjol atau perlu diperbaiki. Siswa yang sudah berhasil lulus dari Green School pun tidak mendapatkan Ijazah, hal ini dilakukan karena tidak ingin menciptakan kompetisi dalam proses pembelajaran, semua dilakukan dengan sistem kerjasama, tanpa meniadakan proses evaluasi dari guru kepada masing-masing siswa.

Kelas di Green School terdiri dari Play Group, sampai dengan SMU. Setiap kelas terdiri dari 20-25 siswa. Siswa di Green School terdiri dari sekitar 40 negara berbeda, siswa yang berasal dari Indonesia sendiri hanya mencapai 15 persen. Meskipun demikian Green school tetap memberikan kesempatan kepada warga indonesia atau warga lokal untuk ikut belajar di Green School dengan bantuan beasiswa dari serta para donatur.

Pemberian cinderamata dari Mahasiswa PGSD semester 4 UMMgl menjadi akhir serangkaian kegiatan kunjungan di Green school Bali. Dosen Pendamping beserta seluruh mahasiswa yang tergabung dalam acara KKL  PGSD Goes To Bali berpamitan untuk meninggalkan Green School dan pulang membawa oleh-oleh berupa pengalaman dan pengetahuan seputar pendidikan yang sangat luar biasa dan tidak terlupakan.


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Forum Multimedia Edukasi  www.formulasi.or.id